Tak Cukup Sekedar Meyakini Allah Sang Pencipta


   


 Setelah kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya, mentauhidkan-Nya serta tidak beribadah kepada selain-Nya, maka penting bagi kita bahwa, tidak cukup kita meyakini adanya Allah saja, tidak cukup kita meyakini bahwa Allah yang menciptakan semua alam semesta, atau meyakini Allah memberikan rizki saja tanpa  menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang kita sembah.   

    Coba kita melihat para pendahulu kita, hakikatnya orang-orang yang diperangi oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu orang-orang kafir Quraisy mereka juga meyakini adanya Allah Ta’ala. Bahkan mereka juga beribadah kepada Allah Ta’ala, Mereka meyakini bahwa Allah yang memberikan rizki kepada mereka, Allah yang mengatur segala urusan alam semesta, akan tetapi keyakinan mereka tersebut tidak memasukkan mereka kedalam Islam, hal ini di kabarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٣١

Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)? (QS. Yunus 31) [1]

Dari ayat yang mulia tersebut, kita mengetahui bahwa mereka juga meyakini Rububiyah (Perbuatan) Allah, Yang Mencipta, Yang Memberi Rizki, Yang Mengatur alam semesta dan seterusnya, akan tetapi mereka tetap diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tetap disebut sebagai orang kafir dan musyrik. Mengapa demikian?

Yang demikian, karena mereka memang beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka masih meyekutukan-Nya dengan sesembahan selain-Nya. Sedangkan Allah memerintahkan kepada mereka untuk memurnikan agama dan peribadahan hanya untuk Nya. Allah berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah 5)

Selain itu mereka masih berdoa dan meminta pertolongan kepada selain Allah dan menjadikan sesembahan selain Allah itu sebagai perantara bagi mereka dalam beribadah kepada Allah. Hal ini Allah kabarkan dalam Firman-Nya:

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ ...

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya"... (QS. Az-Zumar 3).

Makna dari kata (أَوۡلِيَآءَ) adalah sesembahan selain Allah Ta’ala yang mereka yakini bisa memberikan pertolongan (syafaat) dari sisi Allah ta’ala dan menjadi perantara dalam menyampaikan doa-doa dan hajat-hajat mereka kepada Allah [2], sebagaimana dalam firman-Nya:

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa´at kepada kami di sisi Allah" (QS. Yunus 13)

Adapun diantar Auliya’ atau sesembahan dan pelindung mereka yang masyhur adalah Latta. Siapakah Latta itu?

Di Jelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan Al-Quran Surat A-Najm ayat 19:

 أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ ١٩

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza (sebagai tandingan selain Allah)”.

Latta adalah nama orang sholeh yang sangat dermawan dan suka memberi makan orang-orang yang berhaji disekitar Ka’bah kala itu. Karena kesholihan dan kedermawanannya tersebut orang-orang menjadi cinta kepadanya, sehingga ketika beliau meninggal maka orang-orang membangunkan bangunan diatas kuburannya, memasangkan tirai-tirai di dalam bangunan tersebut sehingga  terjadilah kesyirikan dengan beri’tikaf, beribadah dan bedoa di dalamnya dan menjadikan Latta sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah[3]

Kesimpulan :

Dalam kita mentauhidkan atau mengesakan Allah, tidaklah cukup kita meyakini adanya Allah saja, meyakini Allah yang memberi rizki dan mengatur urusan alam semesta saja. Akan tetapi harus menjadikanNya sebagai satu-satunya sesembahan dalam peribadahan kita dan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya semata, serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun yang terakhir adalah kita menetapkan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan di dalam Alquran maupun As-Sunnah As-Shohihah dengan tanpa Takyif (menanyakan bagaimana), Tamtsil (Menyerupakan), Tahrif (Memalingkan makna) dan Ta’thil (Menolaknya). [4]

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang bisa mentauhidkan Allah dengan sebenar-benarnya dan memasukkan kita kedalam syurgaNya tanpa adzab dan hisab. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. Wallahu Ta’alaa A’lam.

 

Bandongan, Magelang, 14 Ramadhan 1442 H/ 27 April 2021

Saudaramu karena Allah, M.S. Burhanudin

---------------------------------------------

Sumber:

1. At-Tauhid Al-Muyassar,  Syaikh Abdullah bin Ahmad Al-Huwail hal 9

2. Syarah Al-Qowaidul Arba’, Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hal. 15

3. Lihat Kitab Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Al-Mishbahul Muniir Fi tahdzibi Tafsir Ibni Katsir) hal.1377

4. Al-Jadid Fi Syarhi kitab At-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qor’awiy hal. 11

 

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer