Kembali Kepangkuan Ibunda Tercinta dan Keluarganya
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد
Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu, sebagaimana yang sudah kita baca pada artikel sebelumnya, maka Halimah As Sa’diyah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau, sehingga dia mengembalikan beliau kepada ibunya. Kemudian beliau hidup bersama ibunda tercinta hingga berumur enam tahun.
Beberapa waktu kemudian Aminah binti Wahb merasa perlu mengenang suaminya yang telah meninggal dunia dengan cara mengunjungi kuburannya di Yatsrib Madinah. Maka dia pergi dari Mekkah menempuh perjalanan sejauh 500 km, bersama putranya yang yatim, yaitu Rasulullah, disertai pembantu wanitanya, yaitu Ummu Aiman. Setelah menetap selama satu bulan di Madinah, maka Aminah binti Wahb dan rombongannya siap-siap untuk kembali ke Mekkah. Dalam perjalanan pulang itu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di Abwa’, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah."
Dalam Asuhan Kakeknya yang Penuh Kasih Sayang
Abdul Mutholib membawa Rasulullah kembali ke Mekkah. Perasaan kasih sayang di dalam hatinya terhadap cucunya yang kini yatim piatu semakin kuat, karena cucunya harus menghadapi cobaan baru di atas luka yang lama. Hatinya bergetar oleh perasaan kasih sayang yang tidak pernah dirasakannya sekali pun terhadap anak-anaknya sendiri. Dia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Bahkan, dia lebih mengutamakan cucunya dari pada anak-anaknya.
Ibnu Hisyam menceritakan, “Ada sebuah dipan yang diletakkan di dekat Kabah untuk Abdul Mutholib. Sedangkan kerabat-kerabatnya biasa duduk di sekeliling dipan itu hingga Abdul Mutholib ke luar ke sana, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani duduk di dipan itu sebagai penghormatan terhadap dirinya.
Suatu hari—saat Rasulullah telah menjadi anak kecil yang montok beliau duduk di atas dipan itu, maka paman-paman beliau langsung memegang dan menahan agar tidak duduk di atas dipan itu. Tatkala Abdul Mutholib melihat kejadian ini, dia berkata, ‘Biarkan anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.’ Kemudian Abdul Mutholib duduk bersama beliau di atas dipannya sambil mengelus punggung beliau dan senantiasa merasa gembira terhadap apa pun yang beliau lakukan.”
Pada usia 8 tahun lebih 2 bulan 10 hari dari umur Rasulullah , kakeknya meninggal dunia di Mekkah. Sebelum meninggal, Abdul Mutholib sudah berpesan menitipkan pengasuhan sang cucu kepada pamannya, Abu Thalib, saudara kandung bapak beliau.
Dalam Asuhan Pamannya yang Penyayang
Abu Thalib menjalankan kewajiban yang diembankan kepadanya untuk mengasuh keponakannya dengan penuh tanggung jawab seperti halnya dia mengasuh anak anaknya sendiri. Dia bahkan mendahulukan kepentingannya di atas kepentingan mereka. Selain itu, ia mengistimewakannya dengan penghargaan yang begitu berlebihan. Perlakuan tersebut terus berlanjut hingga beliau berusia di atas empat puluh tahun. Paman beliau masih tetap memuliakan, memberikan pengamanan terhadapnya, menjalin persahabatan ataupun mengobar permusuhan dalam rangka membelanya. Pembahasan tentang hal ini akan kami uraikan di bagian tersendiri.
Sumber Kitab : Ar-Rahqul Makhtum Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarokfuri

Komentar
Posting Komentar