Mu'jizat Nabi Di Tengah Keluarga Bani Saad, Sampai Pembelahan Dada Beliau



بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد


PERSUSUAN NABI MUHAMMAD SHOLLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM


    Wanita yang pertama kali menyusui beliau setelah ibundanya adalah Tsuwaibah dia adalah seorang hamba sahaya Abu Lahab yang kebetulan sedang menyusui anaknya yang bernama Masruh. Sebelumnya, wanita ini juga menyusui Hamzah bin Abdul Mutholib. Setelah itu dia menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi.


DI TENGAH KELUARGA BANI SA'AD


    Tradisi yang berjalan di kalangan Bangsa Arab yang relatif sudah maju, di mana mereka mencari wanita-wanita yang bisa menyusui anak-anaknya. Tujuannya adalah menjauhkan anak-anak mereka dari penyakit yang biasa menjalar di daerah yang sudah maju, agar tubuh bayi menjadi kuat, otot-ototnya kekar dan agar keluarga yang menyusui bisa melatih bahasa Arab. Maka Abdul Mutholib mencari para wanita yang bisa menyusui beliau. Dia meminta kepada seorang wanita dari Bani Saad bin Bakar agar menyusui beliau, Halimah binti Abu Dzu’aib, dengan di dampingi suaminya, Al-Harits bin Abdul Uzza yang berjulukan Abu Kabsyah dari kabilah yang sama.


    Saudara-saudara satu susuan Rasulullah adalah, Abdullah bin Al-Harits, Unaisah binti Al-Harits, Hadzafah atau Jadzafah binti AlHarita (yaitu Asy-Syaima’ yang merupakan julukan yang umumnya dipakai untuk namanya). Selain menyusui Rasulullah, Halimah juga menyusui Abu Sufyan Al-Harits bin Abdul Mutholib, anak paman atau keponakan Rasulullah.


    Paman beliau, yaitu Hamzah bin Abdul Mutholib juga disusui di Bani Saad bin Bakar. Suatu hari ibu susuan Rasulullah juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Mutholib selagi beliau masih dalam susuannya. Dengan demikian, Hamzah bin Abdul Mutholib adalah saudara susuan Rasulullah dari dua pihak, yaitu dari Tsuwaibah dan dari Halimah As-Sa’diyah 


    Halimah As-Sa’diyah bisa merasakan berkah yang dibawa oleh Rasulullah, sehingga bisa mengundang decak kekaguman. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq yang mengisahkan bahwa Halimah As-Sa’diyah pernah keluar dari negerinya bersama suami dan anak yang disusuinya, serta bersama beberapa wanita dari Bani Saad bin Bakar. Tujuan mereka adalah mencari anak yang bisa disusui.


    Dia berkata, “Itu terjadi pada masa paceklik, tidak banyak kekayaan yang tersisa. Aku pergi sambil naik keledai betina berwarna putih milik kami dan seekor unta yang sudah tua dan tidak bisa diambil air susunya lagi walau setetes pun. Sepanjang malam kami tidak pernah tidur, karena harus meninabobokan bayi kami yang terus menerus menangis karena kelaparan. Air susuku juga tidak bisa diharapkan, sekalipun kami tetap masih mengharapkan adanya uluran tangan dan jalan keluar. Aku pun pergi sambil menunggang keledai betina milik kami dan hampir tidak pernah turun dari punggungnya, sehingga keledai itu pun semakin lemah kondisinya.


    Akhirnya kami sekelompok tiba di Mekkah dan kami langsung mencari bayi yang bisa kami susui. Setiap wanita dari rombongan kami yang ditawari Rasulullah pasti menolaknya, setelah tahu bahwa beliau adalah anak yatim. Tidak mengherankan, karena kami memang mengharapkan imbalan yang cukup memadai dari bapak bayi yang hendak kami susui. Kami semua berkata, ‘Dia adalah anak yatim.’ Tidak ada pilihan bagi ibu dan kakek beliau, karena kami tidak menyukai keadaan seperti itu. Setiap wanita dari rombongan kami sudah mendapatkan bayi yang disusuinya, kecuali aku sendiri. Tatkala kami sudah siap-siap untuk kembali, aku berkata kepada suamiku, ‘Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama wanita teman-temanku tanpa membawa seorang bayi yang kususui. Demi Allah, aku benar-benar akan mendatangi anak yatim itu dan membawanya.’ Suaminya menjawab, ‘Jangan lakukan itu.’ Aku pun berkata, ‘Mudah-mudahan Allah memberkahi kita dengan mengambil anak itu.’


    Halimah melanjutkan kisahnya, “Aku pun pergi menemui bayi itu (Rasulullah) dan aku siap membawanya. Tatkala menggendongnya seakan-akan aku tidak merasa repot karena mendapat beban yang lain.


    Aku segera kembali menghampiri hewan tungganganku, dan tatkala puting susuku aku sodorkan kepadanya, bayi itu bisa menyedot air susu sesukanya dan meminumnya hingga kenyang. Anak kandungku sendiri juga bisa menyedot air susu sepuasnya hingga kenyang, setelah itu keduanya tertidur pulas. Padahal, sebelum itu kami tidak pernah tidur sedikit pun karena mengurus bayi kami. Kemudian suamiku menghampiri untanya yang sudah tua, ternyata air susunya menjadi penuh, maka kami memerahnya. Suamiku bisa minum air susu unta kami, begitu pula aku, hingga kami benar-benar kenyang. Malam itu adalah malam yang terasa paling indah bagi kami.”


    Esok harinya suamiku berkata kepadaku, “Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh berkah.” Halimah As-Sa’diyah pun berkata, “Demi Allah, aku pun berharap yang demikian itu.”


    Halimah As-Sa’diyah melanjutkan penuturannya, “Kemudian kami pun siap-siap pergi dan aku menunggang keledaiku. Semua bawaan kami juga kunaikkan bersamaku di atas punggungnya. Demi Allah, setelah kami menempuh perjalanan cukup jauh, tentulah keledai-keledai mereka tidak akan mampu membawa beban seperti yang aku bebankan di atas punggung keledaiku., sehingga rekan-rekanku berkata kepadaku, Wahai putri Abu Dzu’aib, celaka engkau! Tunggulah kami! Bukankah ini adalah keledaimu yang pernah engkau bawa bersama kita dulu?’ Halimah AsSa’diyah berkata, “Demi Allah, begitulah. Ini adalah keledaiku dulu.” Mereka berkata, “Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa.”


    Kami pun tiba di tempat tinggal kami di daerah Bani Saad bin Bakar. Aku tidak pernah melihat sepetak tanah pun milik kami yang lebih subur saat itu. Domba-domba kami datang menyongsong kedatangan kami dalam keadaan kenyang dan air susunya juga berisi penuh, sehingga kami bisa memerahnya dan meminumnya. Sementara setiap orang yang memerah air susu hewannya sama sekali tidak mengeluarkan air susu walau setetes pun dan kelenjar susunya juga kempes, sehingga mereka berkata garang kepada para penggembalanya, “Celakalah kalian! Lepaskanlah hewan gembalaannya kalian seperti yang dilakukan oleh gembala putri Abu Dzu’aib.” Namun, domba-domba mereka pulang ke rumah tetap dalam keadaan lapar dan tidak ada setetes pun mengeluarkan air susu. Sementara domba-dombaku pulang dalam keadaan kenyang dan kelenjar susunya berisi penuh. Kami senantiasa mendapatkan tambahan berkah dan kebaikan dari Allah selama dua tahun menyusui anak susuan kami. Lalu kami menyapihnya. Dia tumbuh dengan baik, tidak seperti bayi-bayi yang lain. Bahkan sebelum usia dua tahun pun dia sudah tumbuh pesat.


    Kemudian kami membawanya kepada ibunya, meskipun kami masih berharap agar anak itu tetap berada di tengah-tengah kami, karena kami bisa merasakan berkahnya. Maka kami menyampaikan niat ini kepada ibunya. Aku berkata kepadanya, “Andaikan saja engkau sudi membiarkan anakmu ini tetap bersama kami hingga menjadi besar, karena aku khawatir dia terserang penyakit yang biasa menjalar di Mekkah.” Kami terus-menerus merayu ibunya agar dia berkenan mengembalikan anak itu tinggal bersama kami.


    Begitulah Rasulullah tinggal di tengah-tengah Bani Saad bin Bakar, hingga tatkala beliau berumur empat atau lima tahun!'! terjadi peristiwa pembelahan dada beliau.


PEMBELAHAN DADA NABI MUHAMMAD SHOLLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM


    Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah didatangi Malaikat Jibril, yang saat itu beliau sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. Malaikat Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.” Lalu Malaikat Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas dengan menggunakan air Zamzam, kemudian menata dan memasukkannya ke tempatnya semula. Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susunya dan berkata, “Muhammad telah dibunuh!” Mereka pun datang menghampiri beliau yang wajahnya semakin berseri.!”


Sumber:

Kitab : Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarokfuri

Komentar

Postingan Populer