HADITS ARBA’IN KE-1 #Setiap Amal Tergantung Pada Niatnya






بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد


Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوُله، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَو امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ


“Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” 

Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qushairi an-Naisaburi di kedua kitab Shahihnya yang merupakan dua kitab paling shahih yang pernah disusun. 


Faedah Hadits:

1. Perawi Hadits : Beliau Sahabat Umar bin Al-Khatab bin Nufail bin ‘Adiy, bertemu nasabnya denga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pada Ka’ab bin Lu’aiy. Laqab atau nama panggilannya adalah Abu Hafs (Bapaknya Singa). Masuk Islam pada tahun ke-6 setelah kenabian, wafat tahun 24 H berusia 63 tahun. Beliau meriwayatkan hadits sebanyak 539 hadits.

2. Hadits ini adalah hadits yang agung, yang disepakati keshahihannya, banyak faedah di dalam nya dan salah satu hadits yang menjadi poros agama Islam. Al-Imam Syafi’I mengatakan bahwa hadits ini masuk kedalam 70 bab ilmu Fikih; Ulama yang lain mengatakan bahwa hadits ini adalah sepertiga Ilmu agama.

3. Diantara sebab atau sejarah keluarnya hadits ini adalah kisah seseorang yang berhijrah karena ingin menikahi seorang Wanita yang Bernama Ummu Qais. Akan tetapi kisah ini dikomentari kebenarannya oleh para ulama, diantaranya adalah Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali dan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, mereka mengatakan bahwa sanad dari Riwayat ini tidak shahih.

4. Tidaklah seseorang itu beramal melainkan pasti disertai dengan niat, tidak mungkin seseorang yang beramal tanpa disertai dengan niat, kecuali orang yang hilang kesadaran dan orang yang tidak berakal.

5. Sepatutnya seseorang yang beramal agar memperhatikan kebenaran niatnya, yakni ia beramal ikhlas karena Allah Ta’ala semata, tidak karena riya’, pamrih atau untuk selain Allah Ta’ala (Syirik).

6. Seseorang akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya, manakala niatnya benar ikhlas karena Allah maka ia akan mendapatkan pahala, akan tetapi manakala niatnya salah atau rusak maka ia tidak akan mendapatkan pahala malah mendapatkan dosa.

7. Niat ikhlas merupakan syarat diterimanya amal.

8. Niat tempatnya adalah di dalam hati.

9. Besar kecilnya pahala tergantung dengan kesahihan/ kebenaran niatnya.

10. Bolehnya memberikan perumpamaan Ketika mengajarkan sesuatu. Dalam hadits ini disebutkan perumpamaan/ contoh yaitu hijrah.

11. Hijrah merupakan ibadah yang sangat agung yang harus kita niatkan ikhlas karena Allah semata.

12. Buruknya niat yang tidak ikhlas karena Allah Ta’ala.


Bandongan, Magelang, Rabiul Akhir/ Desember  2021

# Saudaramu karena Allah, MS. Burhanudin


Sumber:

Al-Ishobah (4/279); Al-I’lam bi fawaidi umdatil Ahkam, Ibnu Mulaqqin (1/ 139); At-Targhib Wat-Tarhib (15); Syarhu ‘Allal At-Tirmidzi (1/416); Jamiul Ulum walhikam (1/ 75); Fathul Baari (1/10); Matan Arbain Nawawi: Darussalam dan Pustaka Syabab, dll.

Disarikan dari kitab Ad-Durarus Saniyyah Bi Fawaidi Al-Arbain Nawawiyah, Syaikh Dr. Bandar Bin Nafi’, hal-19-24


Komentar

Postingan Populer