HADITS ARBA’IN KE-3 #Rukun Islam



 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد: بسم الله


Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


«بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البِيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ» رواه البخاري ومسلم.


 “Islam dibagun di atas lima hal: syahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

[Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 8), Shahih Muslim (no. 16), Sunan at-Tirmidzi (no. 2609), Sunan an-Nasa`i (VIII/107-108), dan Musnad Ahmad (II/26, 93, 120, 143), dan Musnad al-Humaidi (no. 703)]

 

Faedah Hadits:

1.   1. Perawi hadits : Beliau ‘Abdullah ibnu Umar bin Al-Khattab, kuniyah beliau adalah Abu Abdirrahman Radhiallahu ‘anhuma. Imam Ibnu Mulaqqin mengatakan tentang beliau,” Beliau adalah orang yang Faqih (dalam Ilmunya), ‘Alim, Zuhud, dan wara’”. Bahkan Nabi Muhamad Shallallahu ‘alaihi wasallam memuji beliau secara khusus dalam sabdanya,”Sebaik-baik laki-laki adalah ‘Abdullah, seandainya ia mau melaksanakan sholat malam”. Salim berkata, “setelah mendengan sabda tersebut ia tidak pernah tidur malam kecuali sedikit”. (HR. Bukhari Muslim). Meriwayatkan hadits dari Nabi sebanyak 1630 hadits.

2.  2. Lafal hadits ini berdasarkan riwayat dari jalur Ikrimah bin Khalid dalam Shahih Bukhari dengan mendahulukan haji sebelum puasa. Adapun dalam shahih muslim dari jalur Sa’ad bin ‘Ubaidah lafalnya mendahulukan puasa sebelum haji.

3.   3. Dalam hadits ini menjelaskan lima rukun Islam yakni sebagai tiyang dan fondasi, yang agama Islam tidak akan bisa tegek kecuali dengannya.

a.  Syahadatain : Asyhadu anlaa ilaaha illallah (Syahadat Tauhid) wa asyhadu anna muhammadarrasulullah (Syahadat Risalah), beliau menjadikan dua syahadat ini menjadi satu kesatuan karena ibadah tidak akan sempurna kecuali dengan dua perkara, Ikhlas dan Mutabaah (sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Makna Laa ilaaha illallah adalah Laa Ma’buda bi haqqin illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah). Adapun Syahadat Risalah mengandung makna dan konsekwensi : mentaati perintahnya, membenarkan khabarnya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah sesuai dengan syariatnya.

b.  Mendirikan Shalat : dengan memenuhi syarat-syarat, rukun dan wajibnya shalat serta menghadirkan hatinya (khusyuk).

c.  Menunaikan Zakat : memberikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya yaitu ada delapan golongan yang Allah sebutkan dalam Alquran. Adapun harta yang dizakati adalah harta  tertentu : yang keluar dari hasil bumi, barang dagangan, dua perhiasan (emas dan perak) dan hewan ternak.

d.   Haji : Beribdah kapada Allah dengan manasik haji di Ka’bah Mekkah dengan cara dan waktu tertentu yang telah ditentukan oleh syariat. Adapun syaratnya ada lima : Islam, merdeka, berakal, baligh, dan mampu. Ditambahkan lagi dengan adanya mahram bagi Wanita.

e.  Puasa : beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari segala perkara yang bisa membatalkan puasa dari semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

4.   4. Meninggalkan salah satu dari rukun ini serta mengingkari atas wajibnya hukum dari rukun-rukun ini maka dia kafir keluar dari agama Islam.


Bandongan, Magelang, Rabiul Akhir/ Desember  2021

# Saudaramu karena Allah, MS. Burhanudin

Sumber:

Al-Ishobah (4/279); Al-I’lam bi fawaidi umdatil Ahkam, Ibnu Mulaqqin (1/ 139); At-Targhib Wat-Tarhib (15); Syarhu ‘Allal At-Tirmidzi (1/416); Jamiul Ulum walhikam (1/ 75); Fathul Baari (1/10); Matan Arbain Nawawi: Darussalam dan Pustaka Syabab, dll.

Disarikan dari kitab Ad-Durarus Saniyyah Bi Fawaidi Al-Arbain Nawawiyah, Syaikh Dr. Bandar Bin Nafi’, hal- 31-33

 


Komentar

Postingan Populer