Jangan Kau Mendahului Allah Dan Rasul-Nya (Bahan Materi Kajian Masyarakat)
﷽
*Bab Adab Kepada Allah & Rasulnya: Tidak mendahului Allah dan RasulNya*
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ١
( 1 ) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Qs. Al-Hujurat: 1)
ابن كثير (٧٧٤ هـ)
* * *
هَذِهِ آدَابٌ(٢) ، أَدَّبَ اللَّهُ بِهَا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ فِيمَا يُعَامِلُونَ بِهِ الرَّسُولَ ﷺ مِنَ التَّوْقِيرِ وَالِاحْتِرَامِ وَالتَّبْجِيلِ وَالْإِعْظَامِ، فَقَالَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ [وَاتَّقُوا اللَّهَ] ﴾(٣) ، أَيْ: لَا تُسْرِعُوا فِي الْأَشْيَاءِ بَيْنَ يَدَيْهِ، أَيْ: قَبْلَهُ، بَلْ كُونُوا تَبَعًا لَهُ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ،
Ini adalah *adab-adab yang Allah ajarkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam berinteraksi dengan Rasul* ﷺ, berupa penghormatan, pemuliaan, dan pengagungan.
Firman Allah: “Janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya”
*maksudnya: jangan tergesa-gesa dalam suatu perkara (Agama, amal Ibadah) sebelum beliau, tetapi jadilah kalian mengikuti beliau dalam semua urusan.*
-------
Yg namanya mengikuti itu dimana Pak? Depan/ belakang?
Ketika kita ingin berucap, beramal, beribadah maka lihat bagaimana Ibadahnya Rasulullah:
Mau sholat (Perinci, contohnya)
Mau Dzikir (Perinci, contohnya)
Mau puasa (Perinci, contohnya)
Dst.
*Qs. Ali Imran: 31*
قل إن كنتم ،..
Berkata Imam Bukhari:
العلم قبل قول والعمل
*Hadits:*
من عمل عملا ليس عليه أمرنا،..
*Maka jangan sampai mendahulukan perkataan org lain daripada perkataan Allah dan RasulNya:*
[الشديد] عن تقديم قول غير الرسول ﷺ، على قوله، (السعدي)
قَالَ Ibnu Taimiyah رَحِمَهُ اللَّهُ:
«كَانَ بَعْضُ النَّاسِ يُنَاظِرُ ابْنَ عَبَّاسٍ فِي الْمُتْعَةِ، فَقَالَ لَهُ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ،
فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُوشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ!
أَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَقُولُونَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ؟»
اِنْتَهَى مِنْ «مَجْمُوعِ الْفَتَاوَى» (20/215)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله:
“Dahulu sebagian orang berdebat dengan Ibnu ‘Abbas tentang (haji) tamattu’. Maka orang itu berkata: ‘Abu Bakar dan Umar mengatakan demikian.’
Lalu Ibnu ‘Abbas berkata:
*‘Hampir saja turun kepada kalian batu dari langit! Aku mengatakan: Rasulullah ﷺ bersabda, tetapi kalian mengatakan: Abu Bakar dan Umar berkata?!’”*
(Selesai dari Majmu’ Al-Fatawa 20/215)
*Yg lebih parah lagi kalau berdusta atas nama Nabi (Buat buat Hadits Palsu):*
إنَّ كَذِبًا عليَّ ليس كَكَذِبٍ على أحَدٍ، مَن كَذَبَ عليَّ مُتَعَمِّدًا فليَتَبَوَّأْ مَقعَدَه مِنَ النَّارِ.
المصدر : صحيح البخاري
الصفحة أو الرقم: 1291
* Macam macam hadits
* Amalan berdasarkan hadits lemah atau palsu.
--------------------
قال ابن كثير:
حَتَّى يَدْخُلَ فِي عُمُومِ هَذَا الْأَدَبِ الشَّرْعِيِّ حَدِيثُ مُعَاذٍ، [إِذْ](٤) قَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ: "بِمَ تَحْكُمُ؟ " قَالَ: بِكِتَابِ اللَّهِ. قَالَ: "فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ " قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ: "فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ " قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي، فَضَرَبَ فِي صَدْرِهِ وَقَالَ: "الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رسولَ رسولِ اللَّهِ، لِمَا يَرْضَى رَسُولُ اللَّهِ".
وَقَدْ رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ(٥) . فَالْغَرَضُ مِنْهُ أَنَّهُ أَخَّرَ رَأْيَهُ وَنَظَرَهُ وَاجْتِهَادَهُ إِلَى مَا بَعْدَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَلَوْ قَدَّمَهُ قَبْلَ الْبَحْثِ عَنْهُمَا لَكَانَ مِنْ بَابِ التَّقْدِيمِ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ.
Sehingga termasuk dalam keumuman adab syar’i ini adalah hadits Mu’adz, ketika *Nabi ﷺ berkata kepadanya saat mengutusnya ke Yaman:*
*“Dengan apa engkau akan memutuskan perkara?”*
Ia menjawab: *“Dengan Kitab Allah.”*
Beliau bertanya: “Jika engkau tidak menemukannya?”
Ia menjawab: “Dengan Sunnah Rasulullah.”
Beliau bertanya lagi: “Jika engkau tidak menemukannya?”
Ia menjawab: “Aku akan berijtihad dengan pendapatku.”
Maka Nabi ﷺ menepuk dadanya dan bersabda:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan dari utusan Rasulullah terhadap apa yang diridhai oleh Rasulullah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
*Maksud dari hadits ini adalah bahwa Mu’adz mengakhirkan (menempatkan setelah) pendapat, akal, pemikiran, dan ijtihadnya setelah Al-Qur’an dan Sunnah.*
*Seandainya ia mendahulukannya sebelum mencari pada keduanya, maka itu termasuk bentuk mendahului Allah dan Rasul-Nya*.
✨ Faedah Penting
* Urutan berhukum: Al-Qur’an → Sunnah →(Akal) Ijtihad
* Tidak boleh mendahulukan akal drpd keduanya, kenapa?
-Akal manusia terbatas.
-akal manusia berbeda beda, akal yg mana
-tidak semua masalah agama bisa dicerna akal, hal ghoib, masalah kentut wudhu, mengusap khuf dll.
* Ijtihad hanya dipakai ketika tidak ada dalil
* Mendahulukan akal sebelum dalil termasuk pelanggaran adab syar’i.
---------------------
قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ﴿لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ﴾ : لَا تَقُولُوا خِلَافَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas:
“Janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,” maksudnya: janganlah kalian mengatakan sesuatu yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah.
وَقَالَ الضَّحَّاكُ: لَا تَقْضُوا أَمْرًا دُونَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ مِنْ شَرَائِعِ دِينِكُمْ.
Adh-Dhahhak berkata:
Janganlah kalian menetapkan suatu urusan agama kalian tanpa (merujuk kepada) Allah dan Rasul-Nya.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar