Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia
Diantara nikmat yg sangat agung, yg Allah anugerahkan kepada kita adalah nikmat keamanan di negara kita, Allah anugerahkan kemerdekaan di negara Indonesia yg kita cintai ini, tidak adanya penjajahan maupun peperangan.
Rasullullah Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا.
“Barang siapa di antara kalian yang di pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan baginya seluruh dunia.”
---
خُلَاصَةُ حُكْمِ المُحَدِّثِ: حَسَنٌ.
التَّخْرِيجُ: أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ (٢٣٤٦) وَاللَّفْظُ لَهُ، وَابْنُ مَاجَهْ (٤١٤١).
Kesimpulan penilaian ahli hadits: hasan (baik).
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (2346) dan Ibnu Majah (4141), dan lafaz ini milik Tirmidzi.
---
«فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا»، أَيْ: فَكَأَنَّمَا مَلَكَ الدُّنْيَا وَجَمَعَهَا كُلَّهَا؛ فَمَنْ تَوَفَّرَ لَهُ الأَمَانُ وَالعَافِيَةُ وَالرِّزْقُ لَا يَحْتَاجُ إِلَى شَيْءٍ بَعْدَ ذَلِكَ، فَكَانَ كَمَنْ مَلَكَ الدُّنْيَا وَجَمَعَهَا، فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى شَيْءٍ آخَرَ، وَعَلَى العَبْدِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى وَيَشْكُرَهُ عَلَى هَذِهِ النِّعَمِ.
Makna “seakan-akan telah dikumpulkan baginya dunia” adalah seolah-olah ia telah memiliki seluruh dunia dan mengumpulkannya.
Maka siapa yang mendapatkan keamanan, kesehatan, dan rezeki, ia tidak membutuhkan apa-apa lagi setelah itu. Ia seperti orang yang memiliki dunia seluruhnya.
Karena itu, seorang hamba wajib memuji Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat tersebut.
---
كَمَا قَالَ تَعَالَى:
﴿ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا البَيْتِ * الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ﴾.
Sebagaimana firman Allah:
“Maka hendaklah mereka menyembah Rabb pemilik rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi mereka makan dari rasa lapar dan memberi mereka keamanan dari rasa takut.”
---
Berkata :
أضواء البيان - محمد الأمين الشنقيطي (١٣٩٤ هـ)
فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: رُبِطَ بَيْنَ النِّعْمَةِ وَمُوجِبِهَا، كَالرَّبْطِ بَيْنَ السَّبَبِ وَالمُسَبَّبِ.
Dalam ayat tersebut terdapat pengaitan antara nikmat dan konsekuensinya, seperti hubungan antara sebab dan akibat.
*-artinya:* *karena sebab* Allah telah memberikan kenikmatan kenikmatan tsb, *maka musabbabnya atau konsekuensinya* kita harus bersyukur kepada Allah, menjadikan kenikmatan tsb sebagai sarana beribadah dan mengabdi kepada Nya.
---
فَفِيهِ بَيَانٌ لِمُوجِبِ عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَحْدَهُ، وَحَقِّهِ فِي ذَلِكَ عَلَى عِبَادِهِ جَمِيعًا، وَلَيْسَ خَاصًّا بِقُرَيْشٍ. وَبِهَذِهِ المُنَاسَبَةِ إِنَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، أَفْرَادًا وَجَمَاعَاتٍ، أَنْ يُقَابِلُوا نِعَمَ اللَّهِ بِالشُّكْرِ، وَأَنْ يَشْكُرُوهَا بِالطَّاعَةِ وَالعِبَادَةِ لِلَّهِ، وَأَنْ يَحْذَرُوا كُفْرَانَ النِّعَمِ.
Ayat ini menjelaskan kewajiban beribadah hanya kepada Allah semata, serta bahwa hal tersebut merupakan hak Allah atas seluruh hamba-Nya, bukan hanya khusus untuk Quraisy.
Maka setiap muslim, baik individu maupun kelompok, wajib membalas nikmat Allah dengan rasa syukur, yaitu dengan ketaatan dan ibadah kepada-Nya, serta berhati-hati dari mengingkari nikmat tersebut.
*Maka nasehat utk para santri santri dan kita semua mari kita manfaatkan nikmat nikmat ini sebagai sarana utk bersungguh sungguh dalam kita belajar di pesantren yg kita cintai ini, bersemangat dalam meniti jalan ilmu iman amal Sholeh dan dakwah.*
Baarokallahu Fiikum

Komentar
Posting Komentar