Semangat di Penghujung Ramadhan

 





Saudaraku..Kita patut bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kesempatan kepada kita untuk terus beribadah kepada-Nya hingga tak terasa kita sudah memasuki hari-hari terakhir dari bulan Ramadhan. Lantas Bagaimana sikap kita ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan?

Mari simak penjelasan Ibunda kita tercinta, Aisyah Radhiallahu’anha Ketika menceritakan kisah Baginda Rasul Muhammad Shallallahualaihi wasallam di sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan,

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Dulu Apabila Nabi memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri dari berjima’) menghidupkan malam malam tersebut dan membangunkan keluargannya”.[1]

Kemudian Bunda melanjutkan ceritannya dengan,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

 

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir Bulan Ramadhan “ [2]

Dari cerita diatas menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam Ketika memasuki hari hari terakhir semakin bersemangat untuk beribadah kepada Allah Ta’ala bukan malah sebaliknya seperti yang kita lihat realitanya di masyarakat kebanyakan.

Maka dari itu pada hari hari terakhir ini kita jaga keistiqomahan kita bahkan kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah untuk bisa menggapai malam lailatul Qadar tersebut.

Allah Ta’ala berfirman terkait lailatul Qadar,

لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ  أَلۡفِ شَهۡرٖ

Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan ( Sekitar delapan puluh tiga Tahun)”. (Q.S. Al-Qadr : 3)

Semoga kita diberikan taufiq untuk bisa istiqomah di atas jalan ilmu iman amal sholih dakwah syukur dan sabar, serta bisa menggapai malam yang penuh dengan kemuliaan ini, aamiin yaa Rabbal ‘alamiin.

Bandongan, Magelang, 25 Ramadhan 1442 H/ 07 Mei 2021

# Saudaramu karena Allah, M.S. Burhanudin

---------------------------------------------

Sumber:

1. Lihat Shahih Bukhari 1884, HaditsSoft

2. HR. Muttafaqun 'Alaih, Bukhari Muslim, Lihat kitab Al-Wajiz fi fiqhis sunnah wal kitabil aziz hal. 249

 

Komentar

Postingan Populer